Sex melayu mak janda

22-Jan-2020 21:21 by 5 Comments

Sex melayu mak janda

Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu. Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. “Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya! “Sebentar ya…”, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. ”, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku. Geli, jijik…, namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku.

Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. “Kau Cantik sekali Winda…”, gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh! ” “Sebenarnya…, sebenarnya Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau…, kalau…! “Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku! Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku. ”, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri. Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi. Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke punggung.

”, Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu.Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya. Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai. “Iya benar pak.” “Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya”, Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku.Beberapa saat kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan.